• Latest News

    Jumat, 09 Oktober 2015

    PKS Bengkulu Berlayar di Antara Dua Karang [Part 1]

    Ilustrasi PKS Bengkulu berlayar di antara dua karang


    Oleh : Ibnu Abdussalam*

    "Mendayung antara dua karang,"
    Sebuah ungkapan sikap politik yang terkenal. Ungkapan yang disampaikan oleh salah seorang tokoh proklamasi kemerdekaan, Bapak Muhammad Hatta. Kala itu dalam menyikapi kondisi perpolitikan dunia saat perang dingin antara Unisoviet dengan Amerika Serikat, Indonesia menempatkan diri pada posisi bebas dan aktif.

    Tidak memihak kepada kekuatan manapun, tidak memihak Unisoviet tidak pula memihak Amerika Serikat. Bung Hatta mengibaratkannya seperti mendayung diantara dua karang. Indonesia berdiri netral diantara dua kekuatan raksasa dunia itu, dan cenderung mendorong gerakan aktif anti imperialisme.

    Nampaknya ungkapan Bung Hatta itupun dapat diibaratkan dengan sikap Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Provinsi Bengkulu dalam kaitannya dengan Pemilihan Gubernur tahun 2015 ini.  Sampai saat ini PKS Bengkulu masih belum menentukan pilihan mendukung ke salah satu pasangan manapun. Pemilihan Gubernur Bengkulu yang head to head antara pasangan Ridwan Mukti- Rohidin Mersyah dengan Sultan B. Najamudin - Mujiono itu nampaknya dianggap oleh PKS Bengkulu sebagai pilihan yang sulit.

    Masyarakat tentu menunggu-nunggu sikap PKS terhadap Pilgub ini, namun sampai saat ini PKS masih memilih netral. Banyak kalangan mungkin mempertanyakan sikap PKS ini. Sebagai sebuah partai politik yang memiliki basis massa cukup signifikan di Bengkulu tentu menjadi hal yang mengherankan kenapa PKS tidak menentukan dukungannya ke pasangan manapun.

    Pada pemilu tahun 2014 yang lalu PKS Bengkulu sesuai data dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) memperoleh 75.826 suara atau 8,2 %. PKSpun memiliki 3 Anggota Legislatif (Aleg) yang duduk di kursi Dewan Provinsi Bengkulu. Dengan jumlah perolehan suara dan kekuatan di Legislatif ditambah jaringan struktur organisasi partai dan kader yang solid, sesungguhnya memungkinkan bagi PKS untuk dapat memberikan suara dukungan kepada salah satu pasangan calon. Namun hal ini tidak dilakukan PKS.

    Pada awal-awal tahun sampai bulan Mei 2015 santer terdengar isue PKS hendak mengusung kader sendiri yakni Muhammad Syahfan Badri Sampurno yang hampir positif berpasangan dengan Sultan B. Najamudin, namun diakhir-akhir masa pencalonan tak jadi maju lantaran Sultan B. Najamudin lebih memilih Mujiono yang diusung PDIP. Tentu ada kalkulasi politik bagi Sultan B. Najamudin mengapa memilih Mujiono. 

    Selanjutnya proses pencalonan berjalan sesuai jadwal KPU, dan terjadi komunikasi ditingkat elit antar partai dengan pasangan calon lain, namun komunikasi antara elit PKS dengan pasangan Ridwan Mukti - Rohidin Mersyahpun nampaknya tak membuahkan hasil berupa dukungan  politik.

    PKS Bengkulu tentu memiliki perhitungan matang dalam menentukan sikapnya. Tidak ada paksaan dalam menentukan sikap politik, juga tak ada istilah koalisi yang abadi, terbukti dengan Koalisi Merah Putih (KPM) dan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) yag tak memiliki keutuhan dukungan terhadap calon kepala daerah Bengkulu ini.

    Dalam barisan partai pengusung pasangan Ridwan Mukti - Rohidin Mersyah terdapat partai Hanura, PKB, dan Nasdem yang notabene tergabung dalam KIH, sisanya adalah partai Gerindra, PAN, Golkar yang jelas-jelas tergabung dalam KMP. PKPI dan PPP-pun terhitung mendukung Ridwan Mukti.  Sedangkan dalam barisan parpol pasangan Sultan B. Najamudin - Mujiono, hanya ada PDIP dari KIH dan Partai Demokrat yang memilih tak berada pada KMP maupun KIH.

    Pengalaman panjang dan kiprah politik PKS di Bengkulu tentu menjadi salah satu faktor penentu bagi PKS memilih sikap netral. PKS pernah mendudukan salah satu kader terbaikanya, H. Muhammad Syamlah, Lc di posisi Wakil Gubernur bersama gubernur Agusrin Maryono Najamudin. Bersama kakak kandung Sultan B. Najamudin itu PKS dan PBR berhasil memenangkan pilkada perdana yang berlangsung dua putaran di Bengkulu tahun 2005 itu.

    Pasangan Agusrin - Syamlan berhasil mendulang 54,30 % suara pada putaran ke dua mengalahkan pasangan Muslihan – Rio yang hanya memperoleh 45,70% suara. Pasangan Agusrin Maryono Najamudin - H. Muhammad Syamlan, Lc menduduki jabatan Gubernur-Wakil Gubernur Bengkulu sampai tahun 2010.

    Selanjutnya pada pilkada tahun 2010 PKS mengusung pasangan lain yakni Sudirman Ail - Dani Hamdani yang hanya memperoleh suara 20,55 % di posisi ketiga. Pilgub tahun 2010 itu dimenangkan oleh pasangan Agusrin Maryono Najamudin - Junaidi Hamsyah dengan jumlah suara 31,38 % mengalahkan empat pasangan lain, termasuk pasangan yang diusung PKS.

    Namun tak lama setelah itu Agusrin Maryono Najamudin tersangkut kasus korupsi dan dilengserkan dari posisi gubernur karena menjadi tahanan KPK. Posisi Gubernurpun selanjutnya dipegang oleh Junaidi Hamzah yang kemudian dipasangkan dengan Sultan B. Najamudin, adik kandung Agusrin, melalui mekanisme penetapan di rapat paripurna DPRD Provinsi Bengkulu.

    PKS selanjutnya fokus pada kiprah anggota dewannya menggulirkan kebijakan-kebijakan legislatif bagi masyarakat Bengkulu. Namun secara politik PKS tidak memposisikan diri sebagai oposan, sehingga kedekatan dengan kepala daerah ( Junaidi Hamzah - Sultan B. Najamudin) masih terus terbangun.

    Pengenalan PKS terhadap calon-calon gubernur dan calon wakil gubernur pada pemilu tahun 2015 ini menjadi modal bagi PKS dalam memilih setiap pasangan calon untuk diajak berkoalisi, juga menjadi landasan menentukan sikap seperti sikap netral yang dipilihnya saat ini.

    Ridwan Mukti bagi PKS mungkin dianggap sebagai sosok baru di Bengkulu. Kiprah Ridwan Mukti sebagai Bupati Musi Rawas nampaknya belum dikenal secara baik oleh elit PKS Bengkulu. Selain itu tentu ada masukan lain dari petinggi PKS di Sumatera Selatan dan Pengurus Pusat yang menjadi pertimbangan kenapa PKS tak mendukung Ridwan Mukti.

    Pilihan sikap netral, tidak mendukung salah satu pasangan calon pada Pilkada Gubernur tahun 2015 ini tentu harus dihormati, karena PKS memiliki mekanisme internal yang telah dilalui dalam memutuskan setiap kebijakan. Namun pilihan sikap netral ini belum tentu akan bertahan lama, apalagi sebentar lagi PKS Bengkulu akan menggelar Musyawarah Wilayah (Muswil) pada 14 - 17 Oktober 2015 mendatang. Bisa jadi kepengurusan baru hasil Muswil yang ke-empat itu, melalui mekanisme musyawarah diinternal, akhirnya memutuskan arah dukungan kesalah satu pasangan calon.

    [Bersambung ke Part 2]

    *) Ibnu Abdussalam adalah pemerhati gerakan PKS Bengkulu. Tinggal di Kota Bengkulu
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Poskan Komentar

    Item Reviewed: PKS Bengkulu Berlayar di Antara Dua Karang [Part 1] Rating: 5 Reviewed By: mas ugik
    Scroll to Top