• Latest News

    Selasa, 27 Oktober 2015

    Boikot Pemimpin Dramaturgis [Bagian 2; Habis]


    Sepri Yunarman


    Untuk mengetahui sosok-sosok pemimpin dramaturgis ada beberapa indikasi atau ciri-ciri yang dapat dilihat. Pertama, pemimpin dramaturgis memiliki ciri yakni banyak bicara sedikit kerja. Dimanapun dan kapanpun, ia sedikit-sedikit bicara (bukan bicara sedikit-sedikit), sedikit-sedikit memerintah, sedikit-sedikit berceloteh baik di televisi maupun di media cetak. Sehingga waktunya hanya banyak dihabiskan untuk berbicara saja tanpa ada kerja yang nyata. Padahal pemimpin sejati itu tidak harus banyak bicara, akan tetapi lebih banyak meluangkan waktu untuk mendengar serta lebih banyak bekerja.

    Kedua, pemimpin dramaturgis adalah pemimpin yang lebih berorientasi pada popularitas daripada integritas. Inginnya selalu dipuji dan dipuja oleh setiap orang. Bahkan ia menggunakan media-media demi pencitraan dan popularitasnya.

    Ketiga, pemimpin dramaturgis biasanya lebih suka kampanye lewat foto daripada ketemu langsung dengan masyarakat. Beribu poster, famflet ataupun baliho ditebar dan dipasang ke setiap pelosok. Kadangkala banyak masyarakat  yang bertanya, bagaimanakah wajah yang aslinya, karena kalau melihat wajah yang ada digambar maka terlihat begitu mempesona apalagi dengan atribut kopiah dan selendangnya yang mengesankan lambang kesucian. Padahal belum tentu demikian kondisi yang sebenarnya. 

    Keempat, ciri berikutnya adalah kemunculannya yang tiba-tiba. Biasanya ia mulai tampak ke publik hanya mendekati moment pilkada saja itupun jika kalah maka sosoknyapun hilang entah kemana. Saat ini sangat banyak kita lihat bagaimana kemunculan orang-orang baru saat mendekati proses pilkada. Sering masyarakat dibuat bingung tentang siapa mereka, dari mana asal usul mereka, dan apa tujuan mereka. 

    Memang tidak ada salahnya ketika mereka ingin ikut sebuah pesta demokrasi, toh mereka juga anak bangsa. Akan tetapi, yang menjadi perhatiannya adalah kemana mereka selama ini? Apa yang telah mereka perbuat terhadap masyarakat? Kadang-kadang yang juga membingungkan adalah ketika mendekati moment pilkada, muncul wajah-wajah mereka di berbagai media, diikuti pula oleh berbagai cercaan mereka terhadap kelemahan dan kekurangan pemerintah yang sedang berkuasa. Padahal selama ini mereka diam -entah bersemedi atau bersembunyi- tanpa ikut menawarkan solusi kepada pemerintah.

    Sebagai sesama anak bangsa, perbuatan pemimpin dramaturgis sungguh menyakitkan hati dan melukai perasaan rakyat. Tentu kejadian hadirnya pemimpin dramaturgis jangan sampai terulang kembali! Cukup sudah penderitaan rakyat. Masyarakat harus jeli dalam menilai dan memilih pemimpin kedepan. Saat ini moment yang tepat bagi rakyat untuk melakukan perubahan dan memboikot pemimpin dramaturgis.

    Pilkada serentak tahun 2015 tinggal hitungan hari. Saat ini semua kandidat sibuk memamerkan diri untuk dipilih menjadi pemimpin. Terkhusus untuk Provinsi Bengkulu, pesta rakyat lima tahunan akan segera tiba untuk memilih calon gubernur dan wakil gubernur. Masing-masing kandidat mulai memainkan strategi untuk merebut simpati rakyat. Rakyat mulai dijajahi dengan berbagai macam dagangan politik. Setiap pedagang melakukan berbagai macam trik dan ragam untuk mempengaruhi selera konsumen.

    Mari kita awasi orang-orang tersebut. Cermati track recordnya. Jangan sampai rakyat tertipu lagi. Pilihlah pemimpin yang benar-benar baik (front stage dan back stage) dan memiliki komtetensi dan serta kecakapan dalam memimpin. Pilihlah dengan kecerdasan karena masih banyak pemimpin sejati di negeri ini. Jangan pilih hanya karena saudara apalagi karena rupiah. (*)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Poskan Komentar

    Item Reviewed: Boikot Pemimpin Dramaturgis [Bagian 2; Habis] Rating: 5 Reviewed By: Redaksi
    Scroll to Top