• Latest News

    Jumat, 16 Oktober 2015

    Boikot Pemimpin Dramaturgis [Bagian 1]



    Oleh
    Sepri Yunarman*

    Sepri Yunarman

    Apa itu pemimpin dramaturgis? Kenapa pula ia harus diboikot? Moment untuk apa dan bagaimana konsep pemimpin dramaturgis saat ini nampaknya  adalah saat yang sangat tepat. Karena tahun ini ada perhelatan pilkada serentak dalam rangka memilih calon-calon pemimpin. Kita berharap bahwa pilkada  serentak pada tahun 2015 ini merupakan moment perubahan untuk bangsa   dengan cara memilih para pemimpin yang bersih, peduli, dan merakyat serta betul-betul mempunyai kapasitas dan integritas untuk memimpin bangsa ini

     Konsep dramaturgis ini merupakan konsep dalam sosiologi. Konsep dramaturgis diperkenalkan oleh seorang ahli sosiologi yang bernama Erfing Goffman yang lahir di Canada. Ia adalah seorang doctor lulusan Universitas Chicago. Ia wafat pada tahun 1982 ketika sedang mengalami kejayaan sebagai tokoh sosiologi dan pernah menjadi professor di jurusan sosiologi Univ. Calivornia Barkeley.

    Pernyataan paling terkenal Goffman tentang teori dramaturgis ada dalam buku Presentation of Self in Everyday Life yang terbit pada tahun 1959. Secara ringkas dramaturgis merupakan pandangan tentang kehidupan sosial sebagai serentetan pertunjukan drama dalam sebuah pentas. Istilah dramaturgi kental dengan pengaruh drama atau teater atau pertunjukan fiksi di atas panggung dimana seorang aktor memainkan karakter manusia-manusia yang lain sehingga penonton dapat memperoleh gambaran kehidupan dari tokoh tersebut dan mampu mengikuti alur cerita dari drama yang disajikan.

    Dalam mazhab sosiologi, Goffman termasuk tokoh dari aliran paradigma definisi sosial. Paradigma ini menyatakan bahwa yang menjadi kajian sosiologi adalah individu, bukan masyarakat. Jadi teori dramaturgis sendiri menganalis tingkah individu dalam bertindak. Dalam teori dramaturgi-nya, Goffman menjelaskan bahwa kehidupan setiap manusia di dunia ini seperti pertunjukan sebuah drama. Setiap individu pasti mempunyai Front stage (panggung depan) dan Back Stage (panggung belakang). Pada front stage  (di depan publik), setiap orang pasti melakukan hal-hal yang menarik untuk dipuji, baik perkataannya maupun perbuatannya. Sedangkan pada back stage-nya, bisa jadi individu tersebut melakukan hal-hal yang bertolak belakang dengan apa yang dilakukannya di front stage.

    Pada level tertentu, penulis sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Goffman. Akan tetapi tentu tidak semua apa yang diasumsikan dalam teori ini benar. Salah satu contoh misalnya seorang yang melakukan sholat berjama’ah di masjid. Mengacu pada teori ini, orang yang beribadah sholat di masjid hanya ingin dipuji dan ingin dianggap sebagai orang yang rajin beribadah yang sebenarnya ia tidak seperti itu didalam kesehariannya. Atau seseorang yang bersedekah di depan umum menurut teori ini sesungguhnya hanya ingin dilihat sebagai seorang yang dermawan. Pendek kata, menurut teori ini semua apa yang individu lakukan di front stage pasti berbeda dengan back stagenya. Padahal tidak semua individu berbuat demikian. Banyak juga orang-orang yang betul-betul jujur, konsisten dalam berbuat baik di front stage maupun back stage-nya. Demikianlah gambaran tentang teori darmatugis.

    Jika melihat kondisi kepemimpinan dalam pemerintahan bangsa kita saat ini, baik tingkat pusat maupun daerah, saya mengapresiasi atas sumbangan teori ini. Saat ini kita bisa melihat banyak pemimpin yang menjadi pemimpin dramaturgis. Pemimpin yang perkataan dan perbuatannya tidak sesuai. Berikut beberapa data yang menunjukkan fenomena pemimpin dramaturgis :


    • Lembaga Swadaya Masyarakat Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat 24 kepala daerah terjerat kasus korupsi sepanjang 2012 (www.suaramerdeka.com)
    • Selain kepala daerah, ICW juga mencatat ada 25 anggota DPR dan DPRD yang terjerat kasus korupsi 2012 (www.suaramerdeka.com)
    • Direktur Jenderal Otonomi Daerah (Dirjen Otda) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Djohermansyah Djohan mengungkapkan, sejak tahun 2004 sampai Februari 2013, sudah ada 291 kepala daerah, baik gubernur/bupati/walikota yang terjerat kasus korupsi. Rinciannya, kata Djohan, Gubernur 21 orang, Wakil Gubernur 7 Orang, Bupati 156 orang, Wakil Bupati 46 orang, Walikota 41 orang dan Wakil Wali-kota 20 orang. Jumlah itu mereka yakini akan membengkak hingga 300 akhir tahun ini (www.rakyatmerdeka.com)
    • Selain dari lembaga eksekutif, dan legislatif, juga menyeret para Aparatur birokrasi yang terseret jumlahnya saat ini 1.221 orang. Yang telah berstatus tersangka 185 orang, terdakwa 112 orang dan terpidana 877 orang. Sedangkan yang masih saksi mencapai 46 orang,” (www.rakyatmerdeka.com)


    Dari segelintir data tersebut, dapat diketahui fenomena dramaturgis para pemimpin kita. Jika ditinjau dari perkataan mereka pada saat kampanye dahulu (front stage), maka tidak ada satupun dari mereka yang menyatakan akan melakukan kejahatan. Semua yang mereka janjikan adalah mimpi-mimpi indah tentang kemajuan bangsa dan masyarakat. Akan tetapi, setelah mereka terpilih, tanpa sepengetahuan masyarakat (back stage) mereka mencuri dan merampas harta milik rakyat. Dan naifnya, mereka lakukan itu berulang-ulang selama tidak diketahui oleh penegak hukum. Mereka inilah yang disebut sebagai pemimpin dramaturgis, yakni mereka yang tidak konsisten antara perkataan dan perbuatan. Mereka bermain sandiwara di front stage dan back stage.

    [Bersambung ke Bagian 2 ] 

    ----------------
    *) Penulis adalah lulusan Ilmu Sosiologi Universitas Negeri Padang
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Poskan Komentar

    Item Reviewed: Boikot Pemimpin Dramaturgis [Bagian 1] Rating: 5 Reviewed By: Redaksi
    Scroll to Top