-

-
  • Latest News

    Selasa, 10 November 2015

    Pahlawan dalam Sajak : Pahlawan Adipura

    Petugas sampah
    Oleh : Ibnu Abdussalam

    Dingin malam menusuk tulang tak lagi kau hiraukan
    Fajar sidiq belum lagi menjelang, kudengar riut gerobakmu melupa renta menggelinding menyusuri tepian jalanan kota.

    Seok suara roda gerobakmu mengusikku untuk mengintip di sela-sela cahaya bintang yang kemerlip di langit yang tampak suram.

    Melalui celah itu kusaksikan dirimu membungkuk- mengais isi kotak dan menyangkutkan karung di sisi gerobak.

    Satu-dua botol plastik masuk ke dalam karung, sisanya kau lempar masuk kedalam gerobak yang mulai menggunung.

    Pakaian panjangmu lusuh dibasahi embun, namun dingin itu tak lagi membuatmu surut apalagi urung. Saat kau berlalu, halaman itu tak lagi pernah berkabung.

    Engkau petugas sampah tanpa gaji pegawai negeri. Kerjamu pasti untuk menghidupi anak istri. Dari botol plastik, kardus-kardus dan potongan besi nafkah keluargamu tercukupi.

    Suatu hari tak sengaja kita bertemu di sudut masjid Baitul Atiq.
    Malam itu hujan turun basahi bumi. Kita berbincang dalam sunyi.

    Sambil memandang gerobak tua itu kudengar kisah perjuanganmu.

    Tiga anakmu usia sekolah, namun yang pertama pergi merantau membantu mencari nafkah, sedangkan istrimu menanti di rumah sambil menunggui si kecil yang sakit-sakitan dan lemah.

    Dengan berbekal niat, selepas maghrib engkau baru berangkat, mendorong gerobak tuamu dengan penuh harap.

    Sepanjang jalan sampai waktu isya belum waktumu mengais rupiah. Di masjid dulu engkau singgah menjalankan solat isya berjamaah, setelah itu baru engkau pergi menyusuri tepian jalan  melongok ke setiap kotak sampah.
    Engkau katakan, "aku ingin dapat berkah".

    Malam itu, hujan turun membuatmu tertahan. Dan engkau lanjutkan kisahmu tanpa beban. Engkau katakan, "hujan ini bagian dari berkah Tuhan".

    Tarikan nafas dalammu membuatku terpaku dalam diam, kutatap wajahmu yang tak sama sekali menggambarkan keraguan.

    Sejenak kau keluarkan bungkus plastik lusuh dari kantongmu, lalu kau tarik sejumput tembakau layu dan menggulungya dengan selembar kertas putih merek wayang itu.

    Engkau berbasa menawariku lintingan kecil itu yang kutolak dengan senyum dan terimakasih yang engkau tau maksudku.
    Engkau katakan, "inilah temanku agar terasa tetap hangat badanku".

    Tiba - tiba engkau berdiri dan mendekati gerobakmu. Engkau ambil botol plastik di dalam tas lusuh berwarna kelabu.

    Lantas kau katakan, "engkau boleh menolak lintingan ini karena aku tau engkau pasti tak merokok, tapi jangan tolak untuk yang ini".

    Lalu engkau tuang kopi ke dalam dua gelas plastik bekas air mineral, satu gelas untukmu dan satu untukku. Tergagap kuhaturkan terimakasih dan  kukatakan aku cukup  setengah darimu.
    Engkau masih peduli meski untuk berbagi kopi.
    Hujan masih mengguyur halaman masjid yang sunyi.

    Seteguk telah berlalu dan beberapa hisapan diikuti hembusan asap tipis menemani ceritamu.

    Pagi hari setelah pembersihan di pembuangan akhir, sejenak engkau gunakan untuk istirahat, agak siang bersama istrimu kau rapihkan hasil semalam yang didapat, dan selanjutnya mulai mengepak.
    Sorenya engkau hantarkan ke penampung langgananmu yang terdekat.
    Berapapun yang engkau dapat engkau syukuri sebagai rahmat.

    Hujan telah berganti gerimis dan malam semakin larut dalam kelam, menghantarkanku terharu dalam diam.

    Kopi tinggal satu tegukan, engkaupun pamit melanjutkan perjuangan. Celana panjangmu engkau singkapkan dan topi lusuhmu engkau kenakan.

    Aku tak mampu menahan, karena kau katakan, "kalau aku tak segera jalan khawatir keberkahan segera hilang, mumpung Allah telah longgarkan gerimis menjadi jarang".

    Kupandang pungunggungmu berlalu dijalan itu disertai suara reot gerobakmu.
    Haru masih menyelimuti kalbu.

    Engkaulah pahlawan sejati, bisik suara di dalam hatiku.

    Wahai pejuang, sungguh  engkau bahkan patut menyandang gelar pahlawan. Piala  Adipura sepantasnya dianugrahkan kepada orang-orang sepertimu yang gigih berjuang.

    Selamat hari pahlawan.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Poskan Komentar

    Item Reviewed: Pahlawan dalam Sajak : Pahlawan Adipura Rating: 5 Reviewed By: Redaksi
    Scroll to Top