-

-
  • Latest News

    Kamis, 21 April 2016

    Tantangan Kartini Masa Kini : Bukanlah Hanya Sosok Wanita Berkebaya yang Gemar Menulis Surat



    Sosok Raden Ajeng Kartini merupakan salah satu (dari sekian banyak wanita) yang menginspirasi kaum wanita. Beliau merupakan seorang anak bupati yang tumbuh dalam lingkungan bangsawan yang sangat berkecukupan. Oleh karena itu, Kartini kecil dapat berkesempatan mengenyam pendidikan yang lebih baik dibandingkan dengan sebayanya yang hanya terlahir dari kaum biasa.

    Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 dan meninggal dunia pada 17 September 1904, tiga hari setelah melahirkan anak pertama –dan terakhirnya-. Dengan demikian, Kartini kembali keharibaan Sang Pencipta dalam usia yang masih sangat belia, 25 tahun saja. Meskipun demikian, Kartini gemar belajar hingga berupaya bertukar pikiran dengan banyak koleganya yang kebanyakan saat itu dari Belanda untuk bertukar pikiran. Pemikirannya kemudian dituangkan dalam surat yang sekarang dibukukan dalam Habis Gelap Terbitlah Terang.

    Bagian tersebut merupakan kisah singkat dari perjuangan seorang RA Kartini, dengan langkah perjuangan yang ditempuh melalui surat ke banyak kolega dan sahabatnya. Jika ditarik garis ke depan melewati beberapa zaman maka ada hal menarik mengenai hal-hal apa yang dapat dijadikan langkah perjuangan perempuan masa kini dalam koridor ikut berkontribusi menebarkan kebaikan di dunia.

    Sebagian mungkin memaknainya dengan menggunakan kebaya atau mengenakan konde serta mengenakan perhiasan-perhiasan kebangsawanan berarti telah menjadi seorang kartini masa kini. Dalam hal ini sepertinya tanpa sadar kita terjebak rasa. Semua itu hanya simbol. Kebaya, konde, jam tangan mahal, tas bermerk, sepatu terkini, perhiasan ratusan juta, rumah bagus ataupun mobil mewah, sekali lagi itu semua hanya simbol. Tapi lihatlah betapa beragamnya simbol-simbol ini dibuat dan diciptakan hingga melenakan banyak kaum wanita.

    Sebuah simbol pada hakikatnya hanya marka penunjuk, tak sedikitpun berkaitan dengan kemuliaan seseorang di sisi Allah SWT. Sehingga sangat aneh kalau kaum wanita zaman sekarang mementingkan simbol-simbol ini dan jauh memperhatikan perbaikan akhlak. Akhlak pribadi sebagai seorang perempuan, suami, anak, maupun keluarga mereka. Beberapa yang membaca mungkin berpendapat ga segitunya juga kale, tapi percayalah masih ada banyak orang di sekitar kita yang mati-matian berjuang dan bekerja siang dan malam agar bisa membeli berbagai macam simbol-simbol ini. Simbol-simbol ini adalah tantangan pertama yang harus ditaklukkan kartini masa kini.

    Sebagian lagi memaknai perjuangan menjadi kartini masa kini adalah dengan ikut bersuara dan memberikan saran mengenai beragam persoalan dunia. Sekali lagi kawan, ilmu tanpa amal itu lumpuh. Banyak sekali cakapnya kaum wanita ini mengenai segala sesuatu. Dari mulai harga beras, kondisi keluarga, gossip artis, hingga urusan negara. Dengannya, kata comel maupun cerewet seringkali melekat dalam diri wanita. Bukan perilaku ke-cerewetan-nya yang keliru, melainkan apa yang di-cerewet-kan lah yang harus diperhatikan. Tanpa disadari kalimat-kalimat dari seorang ibu lah yang menanamkan pada si anak beragam kosa kata hingga memupuknya pandai berbicara.

    Meskipun begitu, tentu ada sisi positif dari omalan-omelan ini. Namun coba bandingkan omelan dengan sumpah serapah dengan 'omelan-omelan' yang memuji Allah, tentu berbeda bukan? Karenanya bukan kecerewetannya yang dipermasalahkan tetapi apa yang di-cerewetkan-lah yang harus menjadi perhatian. Tantangan kedua untuk kartini masa kini yaitu mengarahkan sifat cerewet agar menjadi 'cerewet' yang bermanfaat.

    Selain itu, keahlian cakap seorang wanita terkadang belum semuanya mampu untuk diikuti dengan aksi nyata. Semoga Dzat yang Maha Memiliki segala sesuatu memudahkan kita untuk senantiasa mampu melakukan apa yang kita katakan, karena Allah membenci orang-orang yang mengatakan apa yang tidak dia kerjakan (Q.S. Ash-Shaff : 3). Pandai sekali berkata dan menulis surat, harus begini dan begitu. Padahal kadang yang dikatakan dan yang dituliskan menyelesihi perbuatannya. Hal ini adalah tantangan ketiga yang harus ditaklukan kartini masa kini.

    Dengan demikian, sosok kartini masa kini tentu adalah sosok-sosok hebat yang tidak terjebak simbol maupun kata. Selamat berjuang wahai kartini masa kini, dengan terlibatmu yang penuh manfaat itu, masyarakat madani tentu tak sekedar mimpi.


    Jakarta, 21 Februari 2016 (22.29 WIB)
    Sepenuh Jiwa, Teruntuk Kartini Masa Kini
    UjungPena
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Poskan Komentar

    Item Reviewed: Tantangan Kartini Masa Kini : Bukanlah Hanya Sosok Wanita Berkebaya yang Gemar Menulis Surat Rating: 5 Reviewed By: Redaksi
    Scroll to Top