• Latest News

    Selasa, 12 April 2016

    Cerdas yang Terlambat



    Dahulu saat penjajah Belanda menerapkan politik 'balas budi', anak-anak pribumi diberikannya kesempatan pendidikan. Namun, siswanya adalah siswa pilihan. Anak-anak keturunan Belanda dan anak-anak priyayi yang patuh dengan penguasa saja yang boleh mengenyam pendidikan sampai setingkat SMA atau di atasnya. Bagi pribumi miskin apalagi yang bandel pada pemerintah takkan diberi harapan untuk menempuh pendidikan yang sepadan dengan 'majikannya'.

    Apalagi pribumi golongan santri, dibiarkan mereka jauh terbelakang sampai meja belajar dan sepatupun menjadi momok bagi mereka. Pribumi santri dicukupkan dengan budaya pendidikan 'tradisional' setelah sebelumnya para ulama mereka diasingkan.

    Penjajah sesungguhnya tak benar-benar menginginkan pribumi menjadi cerdas. Karena jika penduduk pribumi cerdas apalagi yang dari golongan santri, maka itu akan mengancam eksistensi kuasanya.

    Setelah puluhan tahun politik 'balas budi' itu berjalan, penjajah mungkin masih 'kecolongan' dengan munculnya gerakan gerakan perlawanan dari anak-anak muda pribumi 'binaanya'. Muncul organisasi-organisasi dan perserikatan-perserikatan bumi putera. Pribumi yang telah 'cerdas' (baca : di-'cerdas'-kan) pendidikan menuntut hak untuk merdeka.

    Penjajah mungkin memang benar-benar kecolongan. Namun mereka telah punya 'investasi' dari buah pendidikan yang diterapkannya. Pribumi sudah bisa bahasa mereka dan 'pintar' membaca surat perjanjian dari mereka.

    Saat mereka menginginkannya, investasi tanaman itu akan berbuah dimusimnya dan ia tak perlu tanam terlalu banyak untuk mengunduh hasil yang melimpah.
    Mungkin ketamakan sifat manusia merupakan pupuk alami yang memenuhi keinginan mereka ketika pribumi dipimpin kaum tanpa 'santri'.

    Bung Karno bukan tak tahu simpanan emas dan uranium di Papua tatkala ia gelorakan Trikora. Bung Hattapun tak mungkin lengah tatkala ucapkan 'mendayung diantara dua karang' yang menjadi prinsip bebas-aktif politik luar negeri bagi negeri ini ditengah dua adikuasa dunia AS-Soviet.
    Bung Karno nyatakan Indonesia harus berdikari jangan tergantung dengan asing, dan terpaksa menyombongkan diri dengan membangun bangunan megah dan monumen pencakar langit yang dipaksakan.

    Setelahnya, waktu terus berganti dan orang-orang berpendidikan semakin bertambah setiap hari. Tapi tau-tau berapa surat perjanjian dan kontrak dengan 'bekas kaum penjajah' ditandatangani? Tak hanya Preefort dan Newmont tentunya tapi puluhan bahkan ratusan proyek infrastruktur dan sumber-sumber strategis hampir semuanya 'berkongsi', baik sebagian kecil atau sebagian besarnya, dengan 'majikan baru dan majikan lama' yang tak jauh berbeda dengan 'majikan dahulu kala'.

    Orang-orang cerdas selalu ada kebaikannya. Tapi tak ada guna jika kecerdasannya 'terlambat' digunakan. Apalagi jika orang-orang cerdas itu telah hilang nuraninya.

    Pendidikan saat ini nampak memang banyak membuat orang cerdas. Namun nurani mereka tak secemerlang akal mereka. Adapun yang akal dan nuraninya cemerlang kadangkala terlambat untuk 'digunakan' pada saat yang tepat.

    Bagaimanakah jika, kampus-kampus besar membuka program studi ilmu tentang nuklir, tapi saat lulusanya bisa merancang pemanfaatan nuklir ini, ia tak mampu berbuat apa-apa. Mungkin disebabkan halangan kebijakan, atau kontrak pengembangan nuklir itu telah diteken dengan pihak asing.

    Atau saat seorang lulusan ilmu teknik sipil dan kelautan yang hendak menggarap proyek infrastruktur tol laut milik pemerintah, namun ternyata kontraknya sudah berlisensi pihak Cina.

    Ada lulusan elektro digital dan teknik otomotif, saat ia mampu membuat produk telpon pintar dan mobil buatan sendiri, tapi produk-produk asing handphone dan mobil telah membanjiri negeri karena penerapan nol pajak barang masuk ke negeri ini.

    Itu diantara kecerdasan yang 'terlambat'.

    Apalagi pendidikan saat ini yang mengubah manusia jadi robot. Manusia menuntut ilmu untuk menjadi robot. Mencari ilmu hanya untuk mendapat kerja. Menjual ilmu untuk mengisi perut dan memenuhi standar hidup 'modern' katanya.
    Model link and match menjadi sistem yang sempurna mengarahkan pendidikan orientasi kerja, menjadikan manusia mesin pencetak uang.
    Padahal apa yang masuk kedalam perutnya (rizki) sudah diatur sedimian rupa.

    Pendidikan yang tak menghidupkan nurani adalah pendidikan yang menciptakan robot, dan parahnya robot itu berupa manusia dengan sifat tamak yang menyertainya.
    Akal cemerlang hati suram. Dan nampaknya sekali lagi kecerdasan itu terlambat.

    Seorang dosen fakultas ilmu pendidikan, tampak gagap menyampaikan materi di hadapan mahasiswanya. Ia mendidik calon-calon guru di sekolah, sedangkan ia hanya punya pengalaman 4 bulan mengajar di sekolah, studinya merupakan prestasi yang mengagumkan, sehingga setamat S2 ia mengajar mahasiswa. Ia tak mampu memukau audiensnya di ruang kuliah kampus swasta yang berisi mahasiswa dengan kebiasaan mengajar tiap hari di sekolah yang hampir sudah berselang 5 tahun lebih. Sang dosen gagap menghadapi mahasiswa 'patuh' yang terbiasa menghadapi siswa yang nakal.
    Mahasiswanya hanya mencari selembar ijazah, ilmu bagi mereka sudah 'diluar' kepala (baca:abai). Dosen mafhum apa yang mereka minta. Mahasiswa dan dosen bekerja. Tapi entah untuk nurani atau harta.

    Apa jadinya jika hal itu juga terjadi pada dosen kedokteran? Ah, tentu tidak akan terjadi sama sekali.

    Cerdas yang terlambat. Apakah itu disebabkan oleh matinya terlebih dahulu nurani, atau oleh kebijakan tiran yang menghegemoni.

    Akankah kecerdasan itu terus datang terlambat? Orang-orang cerdas itulah yang bisa menentukannya, apakah nurani atau tirani kekuasaan yang menghegemoni yang akan memimpin mereka.

    Beni Sumarlin
    Reli Bengkulu
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Poskan Komentar

    Item Reviewed: Cerdas yang Terlambat Rating: 5 Reviewed By: Redaksi
    Scroll to Top