-

-
  • Latest News

    Minggu, 28 Februari 2016

    Tanah Rejang Merajang Rindu

    Ia jauh tapi dekat
    Ia ringkih tapi kuat
    Ia biasa tapi jelas berderajat
    Hati ini tempat ia terpahat

    Tidak. Jelas ini tidak sebentar
    Tujuh tahun tidak membuatnya samar
    Jiwa-jiwa yang memar
    Rindu membuncah menggelegar
    Menatap nanar dunia brutal
    Berdiri tegar di tanah kasar
    Curup tenang bukan gamang
    Batang pohon cokelat bukan hitam
    Tanah cokelat bukan merah
    Hutan Curup asli bukan hasil reboisasi
    Masya Allah, dingin pula
    Orang-orang puas dengan tempe bukan Pizza
    Tidak mengeluh dengan Nokia 1600 bukan harus Android
    Syukur ruah untukmu Tuhan
    Bersitan surga kecil yang kubanggakan

    Toleh kanan hutan itu biasa
    Padi merunduk di pinggir jalan
    Halaman kadang kebun kopi
    Durian jatuh bangkitkan rasa
    Isi Perut Kaba jadi sumber air panas
    Penuh bocah ingusan di Suban Air Panas
    Amboi, macam pasti surga gelak tawanya
    Datuk datang
    Mak datang
    Encik datang
    Air hangat belerang penghilang panu
    Peringan rematik
    Pembuang penyakit
    Pengganti spa? Bisa jadi.
    Di atasnya, air terjun
    Liuk-liuk jalan setapak dan hutan
    Tinggi kali rupanya
    Asam laktat terbayar dengan pesonanya
    Ingat Tuhan sepanjang jalanannya
    Tak selebar Niagara tapi layak dapat Cinta

    Perkasa butuh bukti nyata
    Kadang naik Gunung Kaba
    Buang hampa ganti suka, bagian cerita pemuda
    Tanah Rejang membawa Cinta
    Dewasa bawa dunia lain,

    Kecamatan ke provinsi, Pantai Panjang Cik
    Benar panjang
    Kehidupan pesisir terpajang
    Ombak, laut, matahari sungsang
    Hingga rela kantong kerontang
    Genangan air tenang tak berombak,
    Danau Dendam Tak Sudah beriak di tengah siang
    Marah Esi pada Buyung yang menikahi Upik
    Buliran air dari kelopak menjelma danau

    Belok dikit, Benteng peninggalan penjajah terpampang
    Malioboro tak pernah lengang
    Puluhan moncong meriam menghujam langit
    Simbol perjuangan nan sengit

    Rumah Soekarno dan Fatmawati pun di sini
    Bendera pusaka itu dijahit di tanah ini
    Reinkarnasi jadi museum kini

    Tak bersesal atau sibuk dengan kelakar
    Langkah ini berpendar
    Mengitar pertiwi sadar
    Syukur pada Maha Bersandar

    Tujuh tahun habis sudah
    Beritakan rehat di surga
    Bahagia
    -------------
    Yang Tak Pernah Berhenti Mengagumi Pertiwi
    Bengkulu, indah nian sedari dulu
    Oleh : @UjungPena

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Poskan Komentar

    Item Reviewed: Tanah Rejang Merajang Rindu Rating: 5 Reviewed By: Redaksi
    Scroll to Top