• Latest News

    Senin, 09 Juni 2014

    Mengisi Sya'ban Menyongsong ramdhan

    oleh
    Hepi Andi Bastoni

    Sya’ban gerbang Ramadhan. Ia sekaligus madrasah untuk mempersiapkan diri menapaki bulan bertabur pahala itu. Songsong Ramadhan dengan membiasakan diri berpuasa.

    Ramadhan segera menjelang. Tak penuh sebulan lagi kita akan bersua dengan bulan bertabur pahala itu. Kini kita berada di gerbangnya di bulan Sya’ban. Dinamakan Sya’ban karena orang-orang Arab pada bulan tersebut yatasya’abun (berpencar) untuk mencari sumber air. Dikatakan demikian juga karena mereka tasya’ub, berpisah-pisah atau terpencar di gua-gua. Dan dikatakan sebagai bulan Sya’ban juga karena bulan tersebut sya’aba (muncul) di antara dua bulan Rajab dan Ramadhan. Bentuk jamaknya adalah Sya’abanaat dan Sya’aabiin.

    Layaknya tamu agung yang membawa beragam kebaikan, begitu seharusnya kita menyambut Ramadhan. Di antara bentuk penyambutan itu adalah membiasakan diri melaksanakan ibadah utama di bulan Ramadhan. Yaitu, puasa.

    Puasa merupakan ibadah paling penting bagi Ramadhan. Karenanya, ketika berada di gerbangnya, ibadah ini menjadi paling utama dan sering dilakukan oleh Rasulullah saw. “Rasulullah saw berpuasa sampai kami katakan beliau tidak pernah berbuka. Beliau berbuka sampai kami katakan beliau tidak pernah berpuasa. Saya tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan. Saya tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak daripada bulan Sya’ban,” kenang Aisyah sebagaimana diriwayatkan Bukhari (No 1833) dan Muslim (No 1956).


    Bahkan, dalam riwayat Muslim disebutkan, beliau saw berpuasa pada bulan Sya’ban semuanya. Sedikit sekali beliau tidak berpuasa di bulan Sya’ban.Maksudnya, Rasulullah saw amat sering berpuasa di hari-hari Sya’ban, tapi tidak berpuasa seluruhnya sebagaimana di bulan Ramadhan. Ibnul Mubarak menegaskan, Nabi saw tidak pernah menyempurnakan puasa Sya’ban tapi banyak berpuasa. Pendapat ini didukung oleh riwayat Muslim dari Aisyah, “Saya tidak mengetahui beliau saw puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan.”

    Dalam riwayat Muslim yang lain, Aisyah menceritakan, “Saya tidak pernah melihat beliau puasa sebulan penuh sejak menetap di Madinah, kecuali bulan Ramadhan.” Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, Ibnu Abbas berkata, “Tidaklah Rasulullah saw berpuasa satu bulan penuh selain Ramadhan,” (HR Bukhari No. 1971 dan Muslim No.1157).

    Ibnu Hajar menambahkan, “Puasa beliau saw pada bulan Sya’ban sebagai puasa sunnah lebih banyak daripada puasanya di selain bulan Sya’ban. Beliau puasa untuk mengagungkan bulan Sya’ban.”
    Tentu bukan tanpa alasan mengapa Nabi saw memperbanyak puasanya di bulan Sya’ban. Usamah bin Zaid pernah bertanya, “Ya Rasulullah, saya tidak pernah melihatmu berpuasa dalam satu bulan dari bulan-bulan yang ada seperti puasamu di bulan Sya’ban.” Beliau bersabda, “Itulah bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan. Ia merupakan bulan yang di dalamnya diangkat amalan-amalan kepada rabbul ‘alamin. Saya suka untuk diangkat amalan saya sedangkan saya dalam keadaan berpuasa,” (HR Nasa’i. Lihat: Shahih Targhib wat Tarhib, hlm 425).


    Dalam sebuah riwayat dari Abu Dawud (No. 2076), disebutkan, “Bulan yang paling dicintai Rasulullah untuk berpuasa adalah Sya’ban kemudian beliau sambung dengan Ramadhan.” (Dishahihkan oleh Al-Albani. Lihat: Shahih Sunan Abi Dawud, II/461).


    Begitu besar keagungan bulan Sya’ban, sampai-sampai Ibnu Rajab mengatakan, puasa Sya’ban lebih utama daripada puasa pada bulan haram (Muharram, Rajab, Dzulqa’dah dan Dzulhijah). Ibnu Rajab menambahkan, amal sunnah paling utama adalah yang dekat dengan Ramadhan. Kedudukan puasa Sya’ban di antara puasa lain sama dengan kedudukan shalat sunnah rawatib terhadap shalat fardhu. Karena sunnah rawatib lebih utama daripada sunnah muthlaq dalam shalat. Demikian juga puasa sebelum dan sesudah Ramadhan lebih utama daripada puasa pada bulan lainnya yang jauh dari Ramadhan.


    Rasulullah saw menjelaskan, orang-orang banyak yang lalai dengan kehadiran bulan Sya’ban. Banyak yang mengganggap, puasa Rajab lebih utama daripada puasa Sya’ban karena Rajab merupakan bulan haram. Padahal tidak demikian. Dalam hadits itu pula terdapat dalil disunnahkannya menghidupkan waktu-waktu yang sering dilalaikan manusia. Sebagaimana sebagian orang-orang shalih terdahulu banyak yang suka menghidupkan waktu antara Maghrib dan Isya dengan shalat. Mereka mengatakan saat itu adalah waktu lalainya manusia. Pada jeda dua waktu shalat itu, manusia suka lalai.

    Menghidupkan waktu-waktu yang sering dilupakan, punya beberapa hikmah. Di antaranya, menjadikan amalan itu tersembunyi dan tidak diketahui orang banyak. Menyembunyikan dan merahasiakan amal sunnah lebih utama, terlebih puasa karena merupakan rahasia antara hamba dengan Rabbnya.
    Puasa mendidik kita untuk tidak riya’. Bahkan, sebagian ulama salaf puasa bertahun-tahun tapi tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Mereka keluar dari rumahnya menuju pasar dengan membekal dua potong roti kemudian disedekahkan. Sementara dia sendiri tetap berpuasa. Keluarganya mengira, dia makan dan orang-orang di pasar menyangka ia makan di rumahnya.

    Sebagian salafus shalih malah ada yang berusaha sengaja menyembunyikan puasanya. Ibnu Mas’ud menuturkan, “Jika kalian akan berpuasa maka berminyaklah (memoles bibirnya dengan minyak agar tidak terkesan sedang berpuasa).” Qatadah menambahkan, “Disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk berminyak sampai hilang kesan bahwa ia sedang berpuasa.”


    Para ulama berbeda pendapat tentang sebab Rasulullah saw sering berpuasa di bulan Sya’ban. Ada yang mengatakan, Rasulullah saw biasa melakukan puasa pada ayyamul bidh (puasa tiga hari setiap bulan). Karena bepergian atau hal lainnya, sebagian  terlewatkan. Maka beliau mengumpulkannya dan mengqadhanya pada bulan Sya’ban.

    Ada juga yang mengatakan, karena beberapa istri beliau mengqadha puasa Ramadhannya di bulan Sya’ban, beliau pun ikut berpuasa. Namun ini bertolak belakang dengan apa yang dikatakan Aisyah bahwa dia mengakhirkan membayar utang puasa sampai bulan Sya’ban karena sibuk bersama Rasulullah saw.
    Ada juga yang mengatakan, beliau saw berpuasa di bulan Sya’ban karena pada bulan itu manusia sering lalai. Pendapat ini lebih kuat karena adanya hadits Usamah menyebutkan, “Itulah bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan,” (HR Nasa’i. Lihat: Shahihut Targhib wat Tarhib hlm. 425).


    Bulan Sya’ban juga menjadi warning (pengingat) bagi kaum Muslimin yang masih punya utang puasa. Jika masuk bulan Sya’ban sementara masih tersisa puasa yang belum dilakukan, bisa diqadha di bulan Sya’ban. Dengan demikian, ketika gerbang Ramadhan terbuka, tak ada lagi utang tersisa. Kita pun bisa dengan nyaman menikmati berkah Ramadhan.

    sumber : telaahislam.blogspot.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Mengisi Sya'ban Menyongsong ramdhan Rating: 5 Reviewed By: anakmanis saya
    Scroll to Top